Copyright © LIA's File
Design by Dzignine
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS.An-Nazi’at:37-41)“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS.Al-Qoshosh:60)
Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 07 Juni 2012

3 Kondisi cinta seorang muslimah

Pertama, cinta kepada Allah dan cinta kepada apa yang dicintai Allah
Hal ini yang dituntunkan oleh Islam dan dikehendaki Allah. Cinta kepada Allah (mahabbatullah) merupakan cinta yang pertama dan utama. Ia adalah bingkai sekaligus pondasi cinta. Karena cintanya kepada Allah-lah, kemudian muslimah mencintai sesuatu selain-Nya; karena itu perintah Allah, ia cintai karena Allah.

Muslimah mencintai Rasul-Nya, keluarga Rasulullah, dan sahabat Nabi; ia mencintai mereka karena Allah memerintahkannya. Karenanya ia pun mencintai mereka karena Allah.

Muslimah mencintai suaminya, muslimah mencintai orang tuanya, muslimah mencintai anak-anaknya; semuanya untuk Allah dan karena Allah, lillah dan fillah.

Muslimah mencintai dakwah, muslimah mencintai jama’ah dakwah, muslimah mencintai umat Islam; semuanya untuk Allah dan karena Allah, lillah dan fillah.

Cinta yang demikian adalah cinta yang sejati. Yakni mencintai sesuatu yang dicintai Allah, diperintahkan-Nya, atau diizinkan-Nya tanpa melebihi cintanya kepada Allah.

Kedua, mencintai sesuatu dengan kadar yang sama atau lebih besar dengan cinta kepada Allah
Ini adalah cinta yang syirik (mahabbah syirkiyah). Jika seorang muslimah mencintai suaminya sebesar cintanya kepada Allah, maka ini tergolong cinta syirik yang dilarang. Jika seorang muslimah mencintai anaknya sebesar cintanya kepada Allah, maka ini tergolong cinta syirik yang tidak diperbolehkan.

Jika kadarnya sama dengan cinta Allah saja dilarang dan merupakan kesyirikan, maka cinta kepada sesuatu dengan kadar cinta yang lebih besar dari kecintaannya kepada Allah, maka jelas itu lebih tidak diperbolehkan.

Ketiga, mencintai sesuatu yang dibenci oleh Allah
Ini juga cinta yang dilarang. Ketika muslimah melabuhkan cintanya kepada sesuatu yang dibenci Allah ini, sesungguhnya ia telah terperosok kepada sesuatu yang diharamkan.

Misalnya muslimah yang pacaran. Ia mencintai pacarnya. Padahal pacarnya itu tidak halal baginya untuk menyentuh kulitnya, tidak halal bagi mereka untuk berdua-duaan (khalwat), tidak halal bagi mereka untuk bermesraan dan bercumbu ria.

Atau jika muslimah mencintai suatu aktifitas yang dibenci Allah. Misalnya mencintai ghibah atau gosip, dan sejenisnya.

Akhirnya, kita berlindung kepada Allah dari cinta yang salah. Dan memohon kepada Allah untuk mendapatkan cinta yang diridhaiNya saja.

so, cinta yang manakah yang kamu alami???

sumber:
http://www.bersamadakwah.com


Selasa, 05 Juni 2012

Tipe manusia dalam melawan hawa nafsunya

Dalam pergulatan melawan nafsu, manusia terbagi menjadi beberapa tipe:

1. Ada tipe manusia yang dikalahkan oleh nafsu mereka. Mereka cenderung kepada “bumi” dan kehidupan dunia. Mereka adalah orang-orang kafir dan siapa saja yang mengikuti jalan mereka seperti orang-orang yang telah melupakan Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa diri. Allah menyifati orang-orang semacam ini di dalam Al Quran,

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan melatakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al jatsiyah: 23)


2. Ada tipe orang yang bersungguh-sungguh memerangi nafsunya dan melawan keinginannya. Kadang-kadang mereka menang, tetapi kadang-kadang kalah. Mereka kadang berbuat kesalahan, tetapi kemudian bertobat. Mereka kadang bermaksiat kepada Allah, namun lantas menyesal dan beristigfar.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Al Imran: 135)

Mereka telah diisyaratkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah orang-orang yang banyak bertobat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi))

Mengenai pengertian ini, ada sebuah riwayat dari Wahab bin Munabih, bahwa ia berkata, “Sesungguhnya iblis pernah berjumpa dengan Yahya bin Zakaria AS. Lalu, Yahya bin Zakaria berkata kepadanya, ‘Beritahulah aku tentang karakter anak Adam dalam pandangan kalian!’
Iblis menjawab, ‘Segolongan dari mereka adalah orang-orang sepertimu yang maksum. Kami sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa untuk menggoda mereka. Golongan kedua adalah orang-orang yang di tangan kami ibarat sebuah bola yang ada di tangan anak-anak kalian. Keadaan diri mereka sendiri telah memberi peluang kepada kami, sehingga kami tidak perlu bersusah-susah menggoda mereka. Dan golongan ketiga adalah orang-orang yang paling menyulitkan kami. Kami selalu mendatangi mereka, tetapi setelah kami memperoleh apa yang kami hajatkan darinya, lantas ia tiba-tiba beristigfar memohon ampun sehingga istigfar itu merusak apa yang telah kami peroleh darinya. Jadi, kami tidak pernah berputus asa untuk menggodanya, tetapi kami juga tidak pernah mendapatkan apa yang kami perlukan darinya.’”

termasuk yang manakah Anda???

sumber: http://www.hasanalbanna.com
Sabtu, 19 Mei 2012

Taubat dari pacaran

Tidak diragukan lagi bahwa taubat sesuatu yang harus bagi pelaku dosa, apalagi dosa tersebut adalah dosa besar. Di antara hal yang membuat dosa bisa menjadi besar adalah jika maksiat di lakukan terus menerus. Contoh di antaranya yang menyebar di kaula muda adalah pacaran. Berpacaran sudah jelas terlarang karena merupakan jalan menuju zina. Karena tidak ada pacaran yang bisa lepas dari jalan  yang haram.

Berbagai Sisi Pacaran itu Terlarang
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32).
Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, “Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya dari zina dan dari hal-hal yang mendekati zina, yaitu segala hal yang menjadi sebab yang bisa mengantarkan pada zina.”
Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa pacaran adalah jalan menuju zina. Karena hati bisa tegoda dengan kata-kata cinta. Tangan bisa berbuat nakal dengan menyentuh pasangan yang bukan miliknya yang halal. Pandangan pun tidak bisa ditundukkan. Dan tidak sedikit yang menempuh jalan pacaran yang terjerumus dalam zina. Makanya dapat kita katakan, pacaran itu terlarang karena alasan-alasan ini yang tidak bisa terbantahkan.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Dosa Mengharuskan Taubat

Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)
Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang.”
Jika taubat harus memenuhi tiga syarat tersebut, maka tiga syarat orang yang taubat dari pacaran adalah:
1. Menyesal dan sedih telah berpacaran
2. Putuskan pacar sekarang juga
3. Bertekad tidak mau pacaran lagi dan menempuh jalan yang halal dengan nikah

Ujung Zina adalah Penyesalan

Luqman pernah berkata kepada anaknya,
يا بني، إياك والزنى، فإن أوله مخافة، وآخره ندامة
“Wahai anakku. Hati-hatilah dengan zina. Di awal zina, selalu penuh rasa khawatir. Ujung-ujungnya akan penuh penyesalan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 326)
Memang betul apa yang diutarakan oleh Luqman, seorang yang sholeh. Dan itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang dilakukan oleh orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang lain. Khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka. Ujung-ujungnya dipenuhi rasa penyesalan. Karena bisa jadi si wanita hamil. Si laki dituntut tanggung jawab. Akhirnya pusing kepayang karena perut si wanita yang makin besar dan sulit ditutupi. Akhirnya yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun sudah dicap “jelek” karena terpaksa “Married because an accident”.
Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berada dalam kebaikan dan menjauhkan kita dari berbagai maksiat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
*dikutip dari Artikel www.remajaislam.com